Cemooh Rembulan :)

Kalau bulan bisa ngomong.. Dia jujur takkan bohong..

Begitu penggalan lirik lagu yang judulnya Kalau Bulan Bisa Ngomong.

Bulan tak bisa bicara. Ah, siapa bilang? Karena dia tidak punya mulut, kau pikir dia tidak bisa bicara? Sama saja dengan seorang bisu. Apakah ia tidak bicara? Jawabanmu tidak? Seberapa yakin kau yakin kalau seorang bisu tidak bicara? Ia tidak bisa bicara, bukan berarti ia tidak bicara🙂 Tentu, ia bicara..ya, bicara dengan caranya sendiri, mungkin beberapa bicara dengan hati, beberapa dengan bahasa tubuh, beberapa dengan tatapan. Tetapi, rembulan? Dengan apa ia bicara?

Sebelum kujawab satu pertanyaan yang mungkin sulit itu, aku ingin cerita kalau jari jemari ini sudah lama tidak berdansa mengikuti irama (baca: hati). Hehe.. Sebelum kujawab (lebih tepatnya, kita jawab, karena dengan membaca ini sudah dipastikan kau tertarik dengan judulnya dan aku pun sungguh masih belum tahu jawabnya hingga detik kutuliskan kalimat ini) aku memutuskan untuk mengajak pikiranmu menari bersamaku. Rembulan, apakah kau bicara?🙂

Malam tadi, aku menatap gelapnya langit malam. Setelah kuperhatikan, ia tidak gelap. Bukan karena pantulan cahaya lampu di Ibukota. Siapa gerangan Ibukota, bukankah langit teramat sangat jauh jarak dengannya? Ternyata, ada bulan yang bersembunyi di balik gelapnya langit malam. Sekejap kubayangkan jika bulan tak ada, betapa legamnya langit malam tadi. Eits.. Sebelum terlarut lebih jauh, aku ingin memberitahumu sesuatu mengenai bulan. Bayanganku mengenai legamnya langit malam tadi, tentu bukan karena cahaya bulan. Para ilmuwan eksakta menyatakan bahwa cahaya bulan berasal dari pantulan matahari. Bulan ternyata tidak mempunyai cahayanya sendiri. Ya, informasi itu akan menambah indah ritme-ritme dalam tulisan ini🙂 Karena aku semakin hampir tahu jawabnya dengan apa rembulan bicara.. Tentu jawabannya bukan dengan matahari ya, haha!

Bulan menerima pantulan cahaya matahari…

Coba renungkan kalimat itu baik-baik… Bulan menerima cahaya matahari. Kemudian memantulkannya. Hingga para manusia di muka Bumi ini melihat, seolah-olah rembulan yang memiliki cahaya itu. Tetapi ternyata dari matahari. Semua makhluk pun tidak ada yang meragukan terangnya sinar matahari bukan? Ketika ia berbagi cahayanya dengan bulan, tetap tak ada yang mengalahkan kehormatan cahaya matahari. Apakah bulan pernah mengatakan bahwa cahaya itu bukan miliknya? Ia hanya perantara, agar malam yang memang sudah sunyi dan sepi ini, tidak menjadi semakin gelap. Matahari tahu, bahwa posisinya akan segera tergantikan dengan bulan yang tak bercahaya, mungkin matahari iba melihat kegelapan, sehingga terciptalah bahwa cahaya bulan berasal dari pantulan cahaya matahari. Apa sih intinya? Sabar.. Keep playing with your mind, it’s almost there🙂

4.5 milyar tahun bulan terbentuk. Siapa dirimu? Sesepuh? Mengaku sudah expert dalam segala hal? Rembulan sudah menertawakan keangkuhanmu kalau begitu🙂 tawanya yang terbahak-bahak kadang membuat awan malam menutupinya. Ya kamu benar, karena angin tentu saja. Angin dari hembusan tawa rembulan… Aku rasa, aku sudah jauh, lumayan jauh. Kata ibu, jangan terlalu jauh, nanti kamu tersesat. Tetapi, semakin jauh, aku semakin penasaran apa yang ada di depanku. Lalu, kita teruskan sedikit ya..

Aku menatap jauh ke belakang, melihat pertanyaan awalku, dengan apa rembulan ber..bi..ca..ra? Hm, itu kan tadi pertanyaannya? Oke, aku belum terlalu jauh, aku masih dapat melihatnya. (bayangkan saja aku sedang melihat jauh ke belakang, dan pertanyaan itu walau samar, aku masih dapat melihatnya, pertanda aku masih berada di batasku).

Seorang tidak bisa bicara, bukan berarti ia tidak bicara. Seorang tidak bisa melihat, bukan berarti ia tidak melihat. Seorang tidak bisa mendengar, bukan berarti ia tidak mendengar. Seorang tidak bisa merasa, bukan berarti ia tidak merasa. Rembulan salah satunya. Ia menerima cahaya matahari. Ia memberikan terang di gulitanya malam. Asal tahu saja, bulan bisa saja tidak melakukan itu semua. Tetapi, satu pelajaran penting dari sang rembulan. Ia menerima, dan kemudian berbagi. Ternyata bulan punya nurani. Mungkin ia tidak punya hati, tetapi ia punya nurani, lebih mulia dari sekedar punya hati.

Tidak semua makhluk paham bagaimana rembulan berbicara. Tetapi, jika kita mencoba sedikit melihat dari kacamata sang rembulan, kita akan paham bagaimana rembulan berbicara..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s