Pengabdianku di Sisi Perairan Lautan Indonesia, Desa Betok Jaya, Kepulauan Karimata, kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat

Image
atas, kiri-kanan (Eva, Tari, Yoyo, gue, Nurul, Tikah, Khalida)
bawah, kiri-kanan (Ilham, Tika, Fia, Zizah, Zahra, Ami, Nufus, Dwi)
di foto ini kurang Aning😦

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan, selamat merdeka Indonesiaku! 68 tahun sudah umurmu… Semoga semakin banyak anak bangsamu yang sukses dan mengharumkan nama bangsa Indonesia ini. Cerita saya kali ini mengenai salah satu bagian Indonesia, ya, tanah kebanggaan ini ternyata menyimpan sumber daya yang hebat. Semoga semua sumber daya itu bisa selalu dikembangkan dengan baik yaa🙂, amin.

3 Juli 2013 – 30 Juli 2013 telah menjadi suatu peristiwa bersejarah dalam kehidupan saya. Bahkan, jika pun saya harus menulis sedetail mungkin peristiwa yang saya alami selama kurang lebih satu bulan itu, halaman-halaman di blog ini rasanya tidak akan pernah selesai.

080720132166

Image

Perjalananku satu minggu menuju Desa Betok…

Foto diatas saya ambil dari salah satu FB temen, hehe, soalnya yang bawa plastik putih itu adalah saya. Yak, foto diatas merupakan salah satu gambaran perjalanan saya menuju lokasi K2N. Lokasi foto tersebut adalah di dermaga Sukadana, Kalimantan Barat. Tetapi, sebelum tiba di lokasi ini, perjalanan yang saya tempuh sudah cukup lama. Kira-kira seperti ini rutenya :

Depok => Jakarta => Semarang => Ketapang, Kalimantan Barat => Sukadana, Kalimantan Barat => Desa Pelapis, Kepulauan Karimata => Desa Betok Jaya, Kepulauan Karimata

Total semua rute itu adalah 7 hari perjalanan. Tanggal 3 Juli 2013 kami semua berangkat dengan bis kuning UI menuju Semarang, kurang lebih sekitar 16 jam perjalanan. Tiba di Semarang, kami nginep semalem di Wisma Pemda, Papandayan. Kami sempat menikmati waktu untuk jalan-jalan sebentar di Semarang sebelum akhirnya kami menuju pelabuhan Tanjung Mas untuk melanjutkan perjalanan ke Kalimantan. Satya Kencana merupakan nama kapal yang kami gunakan, kurang lebih 38 jam di atas laut. Yaa, saya mabok laut. Kerjaan saya di kapal cuma tidur, pipis, dan makan doang, hahahaa… Sempet sih mandi sekali. Oh iya, berhubung kapal ini digunain juga sama penumpang-penumpang lain, untuk menjaga keamanan barang-barang logistik dan barang-barang bawaan pribadi kami, kami membuat jadwal piket. Barang-barang yang kami bawa cukup banyak. Tas carrier saya aja beratnya 14 kg, ditambah tentengan plastik satu dan tas ransel kecil satu. Gini deh pas kita-kita di dalam kapal, kalau mau rebahan atau tidur pun ya seadanya aja, karena tempat kami berupa bangku :

1003505_10201717074638334_924091444_n

Setelah 38 jam di atas laut dan tiba di tanah Kalimantan untuk pertama kalinya, saya dibawa dengan menggunakan bis menuju mes polisi untuk beristirahat semalam. Kedatangan kami di mes tersebut disambut oleh pak Hildi, selaku bupati Kayong Utara. Beliau menyiapkan obat malaria dan kelambu untuk masing-masing kami. Cukup kaget juga saya mendengarnya, karena ternyata malaria di kepulauan Karimata ini cukup ganas. Karena saya batal berangkat ke Papua, saya tidak menyiapkan obat-obatan apapun terkait malaria ini, beruntungnya ternyata obat-obat tersebut diberikan secara gratis kepada saya dan teman-teman yang lain.

Esoknya, kami dibawa dengan mobil kecil menuju ke dermaga. Perjalanan menuju lokasi K2N yang sesungguhnya terasa makin dekat, saya cukup berdebar-debar, karena ini untuk pertama kalinya saya mengabdi kepada masyarakat di luar Jawa, dimana budaya masyarakat setempatnya tentu berbeda dengan wilayah pulau Jawa. Hari itu tanggal 8 Juli 2013, pukul 13.00, kapal kecil kami lepas landas menuju desa Pelapis terlebih dahulu, karena beberapa rekan-rekan saya ada yang mendapat daerah pengabdian disana. Desa Pelapis, Desa Betok Jaya, dan desa Padang adalah tiga desa tujuan K2N UI 2013 kloter Kalimantan Barat, semuanya terletak di kepulauan Karimata. Nah, begini deh kurang lebih persiapan kami sebelum naik ke kapal :

523399_10201717161040494_1298440934_n

Rempong yah? Mesti pake pelampung, belum lagi bawa ini dan itu. Tapi, pelampung memang harus banget dipake, soalnya kita semua kan berangkat pake kapal nelayan yang ngga terlalu besar, jadi sangat besar risikonya untuk kapal terbalik tiba-tiba. Bayangkan, sekitar 7 jam kami terombang-ambing diatas lautan, lagi-lagi mabok laut. Tapi ngga begitu terasa, soalnya saya menikmati indahnya laut, awan, langit, ngobrol-ngobrol, ngegalau, dengerin musik dari hape, bahkan saya mencoba mengendarai kapal tersebut, wah asyik juga loh ternyata jadi nahkoda selama kurang lebih 10-15 menit lah😀. Pukul 20.00 kami tiba di desa Pelapis. Eits, turunnya pun tidak mudah, kami masih harus menggunakan perahu kecil untuk menuju daratan. Mau ngga mau, celana pun terpaksa harus basah. Bermalamlah kami di desa Pelapis!!! Yihaaaa😀

Image

9 Juli 2013, hujan di pagi hari tidak membuat semangat saya luntur untuk menuju desa Betok. 3-4 jam perjalanan dari desa Pelapis menuju desa Betok dengan menggunakan kapal yang kemarin digunakan menuju desa Pelapis. Pukul 09.00 berangkat dan sekitar pukul 13.00 tiba di desa Betok, dan teman-teman yang lain langsung melanjutkan perjalanan ke desa Padang yang sebenarnya masih satu pulau dengan desa Betok, namun perjalanan masih cukup jauh, sekitar 2-3 jam lagi.

9 Juli 2013 – 27 Juli 2013, di Desa Betok 🙂

130720132196

kalau malam, air laut yang pasang membuat pasir-pasir yang ada di foto ini tertutupi oleh air laut

Desa Betok, sebuah wilayah yang kira-kira hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mengelilinginya sampai habis. Hmm, desa Betok, ah tidak ada pantai yang bagus seperti di desa Pelapis nih. Rumahnya pun terlihat sangat padat, agak kumuh, dan sedikit menyeramkan karena rata-rata rumah tersebut adalah rumah panggung dengan kayu-kayu yang terlihat tidak terlalu kokoh untuk ditapaki. Saya sempat berpikir ‘yang bener aja nih, masa rumah kayak gini yang mesti saya tempatin? Ah, pasti ada rumah yang lebih bagus lagi palingan entar‘. Tapi, saya mencoba untuk menerima apapun yang terjadi, karena saya sudah disini dan tidak mungkin untuk pulang lagi kan?

Awalnya, kami semua dibawa ke balai desa yang mana dibelakangnya ternyata adalah rumah Kepala Desa, pak Hasan. Ruangan balai desa tersebut beralaskan tikar saja yang sepertinya terbuat dari anyaman daun yang sudah dikeringkan. Kamar mandi di luar ruangan bertutupkan pintu kayu seakan merupakan kamar mandi yang sudah cukup bagus. Yang membuat saya bersyukur adalah tempat tersebut cukup bersih menurut saya. Ya, saya adalah orang yang agak jijik-an, walaupun untuk situasi-situasi tertentu rasa jijik saya itu masih dapat saya kontrol. Namun, semua pikiran-pikiran mengenai tempat itu hilang ketika melihat wajah-wajah penasaran yang muncul dari balik pintu. Perasaan saya saat itu entah kenapa, tapi sangat senang. Rasa capek selama perjalanan seminggu dan pegel-pegel karena badan ini tidak pernah menyentuh kasur lagi, terasa hilang begitu melihat dan berkenalan dengan anak-anak di Desa Betok ini. Ngga boong deh, rasanya tuh welcome banget🙂. I really miss that moment, so much… Langsung aja, ketika mereka mulai banyak berdatangan, kami pun mulai membuat permainan-permainan, seakan-akan program kerja telah dimulai. Hahahaa, masih terekam jelas banget di memori saya :’).

after you went through the sea…

080720132169

you see them…

Image

Image

Image

Tidak pernah saya sangka sebelumnya, atau bahkan terbersit di pikiran bahwa di balik luasnya lautan Indonesia, ada wajah-wajah dan jiwa-jiwa manis seperti mereka. Selama ini, saya masih berpikir bahwa mereka yang berada di wilayah-wilayah yang jauh dari perkotaan pasti tidak akan lebih baik dibandingkan dengan anak-anak di perkotaan. Ternyata oh ternyata, pikiranku itu salah hampir 100%. Mereka bisa saya bilang jauh lebih baik dan menyenangkan. Semuanya penuh kebersamaan dan tidak saya rasakan individualisme seperti yang saya rasakan di Jakarta. Anak-anak itu paling hobi bermain do-mi-ka-do, bahkan dari jumlah puluhan orang, mereka akan tetap terus bermain hingga mendapatkan satu orang pemenangnya, yaitu yang berhasil bertahan sampai akhir. Yang menang tidak mendapatkan hadiah apapun, tapi kepuasan batin dan rasa senang itulah yang didapatkan. Perasaan yang tidak akan pernah bisa dibayar lunas oleh uang🙂. Anak-anak itu membuat saya melihat desa Betok tidak lagi hanya sebelah mata, tetapi menjadi sebuah desa yang sangat indah. Membuat saya belajar bahwa uang bukanlah yang utama, kebersamaan adalah segalanya. Dengan kesederhanaan, semua dapat menjadi indah dan bahagia. Bahkan listrik di desa ini hanya ada dari pukul 18.00 hingga sekitar pukul 23.00.

Image

saat bermain domikado, permainan favorit mereka🙂

Program saya, Rumah Kreatif!

Thank’s God. Saya merasa sangat bersyukur karena saya ditempatkan di bagian Rumah Kreatif, ya, program ini kebanyakan berhubungan dengan anak-anak, dan saya menyukai anak-anak. Bersama Ilham, Tika, Anning, Nufus, dan Eva kami menjalankan program Rumah Kreatif ini, beserta pendamping lapangan kami yang sangat lucu yaitu abang Diego😀. Menyanyi, menari, membaca, berhitung, menulis, keterampilan membuat clay/malam, origami, olahraga bersama, menggambar, mewarnai, bahasa Inggris, pengetahuan Indonesia, serta berbincang-bincang sambil mengunjungi rumah warga mengenai pendidikan anak-anak mereka adalah hal-hal yang kami lakukan hampir setiap hari di desa Betok. Sebagian besar kegiatan-kegiatan program Rumah Kreatif ini, kami lakukan di perpustakaan sekolah.

Image

Image

Image

hasil karya clay mereka, yang dibuat dengan menggunakan tepung terigu, garam, air, dan pewarna kue

Image

Mengajar di SD…

Mengajar anak-anak itu susah-susah gampang. Ketika kami datang ke desa Betok ini, amat disayangkan, ketika sekolah sudah mulai masuk kembali hanya baru ada satu guru saja yang sudah siap untuk mengajar SD kelas 1. Perlu diketahui, bahwa di desa Betok ini hanya ada satu buah bangunan SD dan satu buah bangunan SMP. Untuk melanjutkan pendidikan sampai ke tingkat SMA, mereka harus pergi ke kecamatan Sukadana dengan menyeberangi lautan selama 7-8 jam, ya, mereka tidak bisa pulang pergi, ibarat kata mereka harus mengekos atau tinggal di rumah saudara atau teman mereka disana. Oleh karena itu, banyak yang tidak melanjutkan hingga ke tingkat SMA, padahal sudah digratiskan biaya pendidikan.

Bahkan, hingga kami kembali ke Jakarta, guru-guru yang seharusnya mengajar masih belum kembali ke desa Betok. Untungnya, masih ada sang kepala sekolah, yaitu pak Edi yang mau mengajar kelas 2 hingga kelas 6. Bisa dibayangkan, bagaimana keterbatasan tenaga pengajar tersebut turut menghalangi kualitasi mutu pendidikan. Terlebih lagi, hanya ada empat buah ruangan di bangunan SD itu. Satu ruangan untuk kelas 1, satu ruangan untuk ruang guru, dan dua ruangan lainnya dipakai untuk ruang kelas dua hingga kelas lima SD. Untuk kelas enam, jumlah mereka hanya empat orang dan mereka ditempatkan di bangunan SMP. Dalam satu ruangan kelas (selain kelas satu tentunya) terdapat dua kelas dan ruangan kelas tersebut hanya dibatasi oleh tembok pendek saja dengan ruangan kelas lainnya. Jadi ketika satu kelas ribut, terdengar sampai kelas yang lain dengan jelas.

Namun begitu, saya melihat semangat belajar yang tinggi dari anak-anak yang sebenarnya pintar-pintar itu. Satu minggu pertama, saya dan teman-teman membantu untuk mengajar di SD, dari pukul 07.00-10.30. Cukup seru, ada yang tiba-tiba menangis karena belum lancar menulis, ada yang nutupin meja belajarnya pake buku gambar besar biar ngga dicontekin sama temennya, ada yang males-malesan sambil makan mi remes (padahal lagi bulan puasa), ada yang suka teriak-teriak, ada yang terus-terusan nanya kapan istirahat, ada yang suka sok tahu ngoreksi punya temennya, dan lain-lain. Hahahahaa… Kalo diinget-inget, lucu juga. Pas dijalanin sih, rasanya harus ekstra sabar banget ngadepin tingkah laku mereka.

Memperlakukan anak-anak itu juga harus hati-hati sih, kalau bisa semuanya harus diperlakukan sama agar tidak terjadi kecemburuan. Saya pernah sih mengalami hal tersebut, tetapi mungkin karena memang sifat anak itu yang pencemburu dan selalu pingin menjadi yang paling disayang. Tetapi, ketika saya memberikan penjelasan kepada mereka, mereka cukup terbuka dan mau mengerti🙂. Contohnya waktu itu, ada anak bernama Wilda, dia menyampaikan suratnya kepada Anning (teman K2N saya), yang mengatakan bahwa dia benci sama saya karena saya tidak mau mengajar dia. Padahal memang karena giliran saya belum dapat untuk mengajar kelasnya dia, hahaaha… Saya pun pura-pura tidak tahu saja, dengan bersikap seperti biasa. Tiba-tiba ia mengirim suratnya sendiri pada saya, yang intinya mengatakan bahwa ia cemburu. Setelah saya berikan pengertian, ia pun mau mengerti🙂.

Induk semang…

Apa tuh induk semang? Sejenis virus? Atau sejenis binatang laut? Bukan dong… Mungkin ada diantara kalian yang masih belum tahu apa itu induk semang. Induk semang itu adalah sebutan untuk orangtua sementara kita selama kita tinggal di rumah mereka. Di Desa Betok ini, kami semua tinggal di rumah penduduk, pemilik rumah kami itu disebut induk semang.

Induk semang saya adalah pak sekretaris desa, yaitu pak Asri. Beliau biasa kami panggil dengan sebutan ‘bak’, tinggal bersama dengan istrinya yang biasa kami panggil dengan ‘umak’. Selain itu di rumah kami ini ada kak Hen (anak pak Asri dengan istri pertamanya yang sekarang sudah meninggal), bang Deni (suami kak Hen), Dery (anak kak Hen dan bang Deni, usianya hampir 2 tahun), Hengki (anak pak Asri dengan umak, 9 tahun), dan Mursalin (anak pak Asri dengan umak, SMA). Namun, saya tidak sempat bertemu dengan Mursalin karena ia sedang berada di Sukadana ketika saya tinggal di rumahnya. Keluarga ini sangat baik terhadap saya dan Yohana (teman K2N yang satu rumah induk semang dengan saya). Walaupun mereka semua Muslim dan kami tidak berpuasa, tetapi umak dan kak Hen selalu menyiapkan kami makan siang. Keluarga ini sudah seperti keluarga saya sendiri🙂. Bahkan hingga detik ini, kami masih berhubungan baik melalui komunikasi via SMS. Ya, setahun terakhir ini jaringan Telkomsel sudah ada di desa Betok, sehingga kami tetap dapat berkomunikasi walaupun saya jauh di Jakarta. Waktu saya tinggal di Desa Betok, saya memakai M3-Indosat, sehingga saya tidak mendapatkan sinyal sama sekali disana. Ternyata, hidup masih tetap indah kok walau tanpa sinyal🙂.

Hadiah-hadiah😀

Tidak pernah saya sangka. Saya mendapatkan cukup banyak hadiah dari warga desa Betok, terutama anak-anak. Banyak sekali yang memberikan saya surat dan gambar setiap harinya. Ada yang langsung memberikannya, ada juga yang melalui temannya. Surat pertama yang saya terima adalah dari seorang anak perempuan bernama Wilda🙂. Saya langsung menitihkan airmata, terharu sekali menerima surat darinya. Ada beberapa gambar dan surat untuk saya yang tidak saya bawa pulang, karena surat dan gambar itu adalah pekerjaan mereka ketika mengikuti program Rumah Kreatif. Ada pula satu surat, dari seorang anak bernama Ayu, yang saya lupa taruh dimana alias hilang😥, walau satu surat saja tapi rasanya sedih sekali. Setiap surat dan gambar dari mereka sangat berharga bagi saya dan selalu saya ingin jaga dengan baik.

310720132295

Beberapa juga memberi saya lipatan dan hiasan kertas, serta mainan lucu🙂. Mainan yellow angry bird itu dari seorang anak perempuan bernama Fitri dan bola kecil itu dari seorang anak laki-laki bernama Samson. Padahal, sebelumnya Samson sampai merengek-rengek meminta bola itu dari teman K2N saya. Ya, bola itu hadiah dari pasta gigi anak-anak. Entah mengapa, pada akhirnya Samson memberikan bola itu kepada saya, katanya ‘untuk kenang-kenangan…‘ :’)

310720132297

Selain itu, ada beberapa seperti Ayu, Rana, Sinta, pak Mian, dan lainnya yang memberikan saya gelang-gelang, juga ada Rizi yang memberikan saya kelereng selama dua hari berturut-turut😀 hahahaa… Padahal, saya belum terlalu lama kenal dengan Rizi, karena ia baru datang dari luar kota setelah beberapa lama saya tinggal di Desa Betok.

310720132298

Ada pula yang memberikan karangan bunga dari sedotan, buku tulis, dan hiasan kerang. Ada cerita yang membuat saya terharu. Pagi-pagi, ada tiga orang anak datang ke rumah saya, kebetulan hari itu saya sudah tidak ada program dan mendekati hari-hari kepulangan saya. Mereka membawa sebungkus plastik hitam yang isinya adalah kelereng, buku tulis, dan hiasan dari kerang. Betapa terharunya saya dengan kebaikan dan ketulusan hati mereka dalam memberi. Saya tidak melihat harga dari barang-barang yang mereka berikan, tetapi saya melihat nilai yang ada, nilai-nilai yang tidak akan pernah bisa terbayar oleh apapun🙂. Keong yang berwarna putih diberikan oleh seorang anak laki-laki bernama Julianda ketika saya akan pulang ke Jakarta, sedangkan tiga keong kembar batik itu diberikan oleh pak Asri.

170820132315

Seorang anak perempuan bernama Rana, memberiku hadiah tas hitam ini. Waktu itu malam hari ketika saya akan pergi ke salah satu rumah warga bersama Yohana, saya berpapasan dengan dia di jalan dan dia membawa sebungkus kotak yang telah dibungkus rapi dengan kertas. Ternyata itu hadiah untuk saya :’), sangat amat terharu… Saya baru tahu kalau isinya tas, ketika saya sudah sampai di rumah saya di Jatiwaringin, Bekasi.

020820132300

Nah, kalo tas di bawah ini, spesial dibuat sama kak Hen untuk saya😀. Dibuatnya dari sedotan loh… Hebat ya? Sampai begadang kak Hen bikin tas ini… Cantik banget ya tasnya? Kayak yang punya :p hahahahaa… Terimakasih kak Hen🙂.

020820132301

Yang paling tidak diduga adalah pemberian boneka ini :’). Boneka yang pink diberikan oleh ibu-ibu (saya lupa namanya) ketika saya sedang berjalan ke dermaga untuk naik kapal pulang ke Jakarta. Saya tidak menyangka sama sekali bahwa ibu-ibu pun sangat sayang kepada kami semua sehingga mereka mau memberikan barang-barang mereka sebagai kenang-kenangan untuk kami. Sedangkan boneka yang coklat itu adalah bantal tidur leher yang diberikan oleh seorang anak perempuan bernama Fitri.

020820132299

Terimakasih untuk semuanya atas hadiah dan kenang-kenangan yang terindah ini🙂 i love you all

Terimakasih K2N UI 2013…

Tulisan-tulisan saya di blog ini tidak akan cukup untuk mewakili setiap peristiwa, rasa, dan kejadian yang terjadi selama K2N UI 2013 kemarin itu. Salah satu pengalaman yang menyenangkan adalah ketika saya berkesempatan melatih anak-anak disana bernyanyi untuk ditampilkan ketika Pesta Rakyat alias pesta perpisahan. Nyanyiannya adalah Garuda Pancasila, Ampar-Ampar Pisang, dan Kasih Ibu. Beruntungnya lagi, saya berkesempatan mengiringi mereka bernyanyi dengan gitar. Ada pula beberapa anak remaja perempuan yang ingin bernyanyi dan meminta saya mengiringinya dengan gitar, yaitu lagu He Yamko Rambe Yamko dan Indonesia Pusaka.

Hmm, selain itu nih banyak kejadian-kejadian yang tak terlupakan, misalnya aja cinta lokasi, anak yang kulit pahanya sobek karena terkena teritib (hewan laut tajam yang menempel di kayu) sampai harus dibius dan dijahit, kuntilanak di kamar mandi rumah induk semang saya, Fia (teman K2N saya) yang kaki dan tangannya sering terbentur sampan, mandi asin, sapaan ceria ‘kak Icha!’ setiap hari di jalan, bermain sepak bola bersama anak-anak, Ijul dan Wilda (salah satu anak desa Betok) yang datang ke rumah dan membantu saya mencuci piring, tertawa bersama, makan nasi sepiring bertiga bersama anak-anak, hingga kesempatan seharian untuk mengunjungi pulau Genting, Kepayang, dan Karimata Tua yang memiliki pemandangan indah luar biasa. Berenang sambil melihat keindahan bawah lautnya seakan menjadi sebuah kewajiban. Terimakasih K2N UI 2013 atas kesempatan yang luar biasa ini. Hingga 27 Juli 2013 pun datang, hari dimana kami harus berpisah, dengan sebuah doa agar anak-anak bangsa ini akan menjadi laskar pelangi penerus bangsa yang hebat dan dengan sebuah harapan semoga kami dapat bertemu kembali. 19 hari memang tidak cukup rasanya, tetapi saya sudah memiliki keluarga baru disini🙂.

190720132219

190720132218

190720132224

190720132241

180720132215

190720132221

130720132204

190720132238

190720132242

190720132225

Wajah dan tawa mereka akan selalu tersimpan abadi dalam memori saya…

190720132256

190720132245

533875_10201717295803863_1599839616_n

1002567_10201717252802788_757297155_n

1098405_10201717256282875_858321430_n

Nah, kalo foto dibawah ini yang atapnya warna merah adalah perpustakaan sekolah, dimana sebagian besar program-program dari Rumah kreatif dilakukan di tempat tersebut. Memang tidak besar, tetapi dinding-dinding di ruangan tersebut telah menjadi saksi biksu akan kenangan-kenangan indah yang pernah terjadi disana🙂.

k2n 2

Kalo yang dibawah ini adalah SD dan lapangan SD. Biasanya, kegiatan olahraga kayak senam, voli, sepak bola, dan bulu tangkis dilakukan di lapangan SD ini..

k2n 3

Terimakasih untuk sebuah pembelajaran kehidupan yang berharga… Bahkan, sekolah sehebat apapun mungkin tidak akan pernah bisa memberikan pelajaran seperti ini…

k2n 4

berfoto bersama warga Desa Betok di depan SMP.. gue cewek yang paling kanan bawah pake topi :p

Terimakasih untuk kebersamaan di dalam suka dan duka selama 19 hari

Semoga ketika kita bertemu lagi, kita sama-sama sudah menjadi orang yang sukses

Amin…

Terimakasih warga Desa Betok Jaya

My new family 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s