Essai K2N UI 2013

Iseng-iseng sih gue nyoba masukin hasil essai K2N gue nih😉 oh iya, K2N itu KKN alias Kuliah Kerja Nyata. Gue belum tahu lolos apa engga sih di tahap penyeleksian essai kali ini, soalnya gue yakin banyak banget mahasiswa yang ikutan apalagi wilayahnya yang keren-keren banget yaitu di perbatasan Papua dan Maluku. Oke okeee, nih gue tampilin essai gue😀

Peran Serta Mahasiswa dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Mengelola dan Melestarikan Kekayaan dan Potensi Alam dari Kepulauan Padaido

            Pulau Padaido merupakan sebuah pulau yang nampaknya belum banyak diketahui oleh masyarakat. Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Padaido merupakan sebuah kepulauan yang terdiri dari sekitar 30 pulau kecil dan berada di kabupaten Biak Numfor, Papua, Indonesia. Begitu banyak pilihan pulau-pulau indah lainnya dalam perjalanan K2N UI tahun 2013 ini, akan tetapi pulau Padaido menjadi suatu sorotan tersendiri bagi saya untuk dapat mengenalnya lebih dalam lagi. Padaido dalam bahasa daerah setempat, berarti keindahan yang tidak dapat diungkapkan. Ada beberapa hal yang ingin saya kaji lebih dalam lagi mengenai pulau ini, yaitu mengenai kondisi alam, masyarakat, budaya, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan juga kesejahteraan wilayah pulau Padaido.

Pada awalnya, kepulauan Padaido dan Biak Timur merupakan bagian dari kabupaten Biak Numfor. Kedua wilayah ini sebelumnya merupakan satu wilayah yang dinamakan Biak Timur. Akan tetapi, karena dilakukan upaya pemekaran wilayah maka kedua wilayah tersebut terpisah menjadi 2 distrik[1]. Kepulauan Padaido secara tradisional dibagi menjadi dua gugusan pulau, yaitu Padaido bawah dan Padaido atas. Padaido bawah merupakan tempat karang-karang atoll, dan Padaido atas merupakan gugusan pulau karang yang tidak berikat[2]. Kepulauan Padaido ini seringkali dijadikan tempat wisata laut bagi para turis. Kepulauan Padaido menjadi Taman Wisata Laut di teluk Cendrawasih. Kegiatan yang menjadi incaran para turis adalah menyelam di bawah laut. Pulau Padaido juga memiliki kekayaan alam yang melimpah, ia memiliki keanekaragaman hayati ekosistem koral terbesar di dunia, yaitu terdapat 95 spesies koral dan 155 spesies ikan[3]. Selain itu, terumbu karang yang terdapat di pulau Padaido ini juga tidak kalah indahnya seperti Montiopora digigata, Acropora latistella, A palifera, Porites Lobata, Porites Lutea, dan jenis-jenis terumbu karang yang lainnya. Kondisi alam yang sangat indah di pulau Padaido ini harus terus dilestarikan. Pasir putih sebagai dasar laut juga menambah keindahan pulau Padaido ini. Akan tetapi, ada saja lokasi-lokasi rusak yang diakibatkan oleh karena faktor alam ataupun karena ulah manusia. Pemerintah setempat, masyarakat, maupun lembaga-lembaga yang ada harus turut serta dalam memperbaiki keadaan di lokasi tersebut, misalnya saja dengan pengadaan terumbu karang buatan dan transplantasi karang. Pengawasan yang ketat juga perlu dilakukan sebagai upaya dari pencegahan rusaknya terumbu karang yang ada di pulau Padaido, terlebih lagi dikarenakan kondisi alam pulau Padaido yang menjadi salah satu tempat wisata laut. Peran masyarakat untuk menjaga, melindungi, serta melestarikan berbagai kekayaan alam yang ada di pulau Padaido merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di pulau Padaido ini.

Pulau Padaido juga kaya akan tanaman kelapa. Hal tersebut berkaitan dengan keadaan ekonomi masyarakat yang berada di pulau Padaido dimana tanaman kelapa tersebut dapat berperan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Hingga saat ini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) pulau Padaido, memberikan pelatihan teknis peningkatan mutu minyak kelapa kepada masyarakat setempat. Pelatihan teknis peningkatan mutu minyak kelapa ini untuk dijadikan Virgin Coconut Oil (VCO), yaitu minyak kelapa murni yang berfungsi untuk meredakan berbagai macam jenis penyakit. Berbagai alat pendukung juga diberikan oleh Disperindag seperti mesin parut kelapa, selang, saringan, toples plastik, botol kemasan, dan juga mixer[4]. Kelapa memang memiliki banyak sekali manfaat, baik buahnya maupun airnya. Selain itu kelapa dapat diolah menjadi santan, minyak goreng, ataupun minyak kelapa murni seperti yang dilakukan oleh masyarakat Padaido. Minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil yang dapat meredakan berbagai macam penyakit itu menjadi salah satu ajang bisnis dan usaha bagi masyarakat Padaido untuk meningkatkan perekonomian mereka, semakin banyak yang mengkonsumsi, maka semakin meningkat pula perekonomian mereka. Pelatihan VCO ini meliputi teori, praktik, hingga pemilihan buah kepada yang tepat untuk dijadikan minyak kelapa murni, yaitu jenis Kelapa Dalam yang sudah tua dan telah kering di pohon sehingga mengandung banyak minyak dan hanya sedikit mengandung santan. Untuk membuat 1 L VCO, masyarakat Padaido harus memiliki 15 buah Kelapa Dalam kecil atau 10 buah Kelapa Dalam besar. Kemudian, setelah buah-buah kelapa tersebut terkumpul, buah-buah tersebut harus disimpan terlebih dahulu di tempat yang kering selama kurang lebih 1 hingga 4 minggu untuk mendapatkan kadar air kelapa yang sedikit dan minyak yang banyak. Setelah berhasi diolah menjadi VCO, untuk mengobati dan juga mencegah berbagai jenis penyakit, VCO harus dikonsumsi sebanyak satu sendok teh dua kali dalam sehari. Kegiatan pelatihan ini dibiayai dari sumber dana otonomi khusus Papua[5]. Kegiatan ini sangat baik, dengan memanfaatkan berbagai unsur alam yang ada untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di pulau Padaido. Sebagai mahasiswa, saya ingin melakukan penelitian terhadap hal ini dengan cara turun langsung bersama masyarakat dan merasakan bagaimana cara membuat VCO tersebut. Selain sebagai bentuk penelitian, tentu saja saya ingin mengabdi kepada masyarakat setempat dengan turut merasakan langsung bagaimana rasanya melakukan kegiatan sehari-hari masyarakat di pulau Padaido.

Selain memanfaatkan tanaman kelapa, pemerintah daerah kabupaten Biak Numfor juga menetapkan kepulauan Padaido sebagai kawasan pengembangan perikanan dan pariwisata. Misalnya saja sumberdaya ikan karang, kima raksasa, kepiting, udang karang, ikan pelagis, kerang anadara, dan juga tiram mutiara. Sumberdaya perikanan tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat kepulauan Padaido maupun masyarakat yang berasal dari pulau Biak. Pengembangan budidaya perikanan ini dilakukan masyarakat setempat sebagai mata pencaharian alternatif. Hasil survey sosial ekonomi masyarakat di distrik Padaido tahun 2005 mengatakan bahwa rata-rata investasi usaha perikanan rakyat tertinggi yaitu dengan menggunakan perahu motor tempel. Kepemilikan dari alat tangkap juga sebagian besar merupakan milik pribadi masyarakat. Penggunaan jaring untuk menangkap ikan mendapatkan hasil produksi tertinggi di pulau Padaidori, Meosmanguandi, Pai, Nusi, dan Auki, sedangkan di pulau Bromsi, penggunaan alat pancing yang mendapatkan hasil produksi tertinggi. Hasil survey juga menyebutkan bahwa masyarakat yang menggunakan perahu motor tempel untuk melakukan penangkapan mendapatkan penerimaan lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan perahu dayung, begitu pula dengan pendapatan tunai yang mereka peroleh. Terdapat pula ikan-ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi seperti teripang, ikan kerapu, dan lobster[6].

Dari sekitar sekitar 30 pulau yang berada di kepulauan Padaido, hanya terdapat beberapa pulau saja yang berpenghuni yaitu menurut sensus pertanian tahun 2003, berjumlah 4075 jiwa dengan laki-laki sebanyak 2097 jiwa dan perempuan sebanyak 1978 jiwa[7]. Pulau-pulau yang berpenghuni tersebut adalah Bromsi, Nusi, Undi, Owi, Padaidori, Meosmanguandi, dan Auki. Masyarakat yang hidup di pulau tersebut tidak mengenal listrik, ya, tidak ada aliran listrik dari PLN di kepulauan Padaido ini. Akan tetapi, karena lokasi pulau Padaido yang terletak di tepi pantai dan mendapatkan banyak sinar matahari, ada solusi yang ditawarkan yaitu PV solar panel yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan energi listrik[8]. Sebagai pribadi dan mahasiswa, pulau Padaido ini sangat tepat untuk dijadikan lokasi K2N. Selain bisa belajar agar lebih mandiri, kami juga dapat menganalisis lebih lanjut mengapa wilayah ini tidak mendapatkan sumber aliran listrik dari PLN. Dan tentu saja besar harapan kami sebagai mahasiswa untuk membawa perubahan kepada masyarakat Indonesia, terutama bagi masyarakat perbatasan yang masih banyak membutuhkan uluran tangan. Sebagai mahasiswa, tidak hanya ilmu saja yang kami dapatkan, akan tetapi pengabdian langsung terhadap masyarakat juga perlu untuk dilakukan.

Masyarakat di kepulauan Padaido merupakan masyarakat yang tersingkir dari daratan Biak akibat peperangan[9]. Bahkan, sampai saat ini masyarakat di kepulauan Padaido masih merasakan perasaan tersingkir mereka tersebut, terutama dalam aspek ekonomi. Hal utama yang menjadi kendala bagi masyarakat Padaido adalah sulitnya transportasi untuk melakukan pemasaran produk-produk mereka, seperti ikan-ikan, hasil laut, maupun VCO. Masyarakat di kepulauan Padaido ini sangat menggantungkan hidup mereka pada sumber daya alam baik yang ada di darat maupun di laut, sayangnya mereka belum terlalu memperhatikan mengenai perlindungan serta pelestarian dari sumber-sumber daya alam yang mereka gunakan tersebut. Oleh karena itu, salah satu peran mahasiswa adalah turut berpartisipasi serta memberikan contoh yang baik kepada mereka dalam upaya pelestarian sumber-sumber daya alam yang berada di kepulauan Padaido. Sehingga, baik terumbu karang, ikan-ikan, tanaman-tanaman, serta koral dan berbagai sumber daya lainnya dapat tetap terus ada dan tetap terlestarikan sampai kapanpun. Selain itu, penduduk di kepulauan Padaido ini adalah mayoritas kristen, dapat dilihat dari gereja yang dapat dijumpai di setiap pulau yang berpenghuni, sedangkan tidak ada rumah peribadatan yang lain. Terdapat 12 bangunan gereja di setiap distrik.

Sarana pendidikan di kepulauan Padaido ini masih sangat terbatas. Akan tetapi, seperti pengenalan mengenai ekosistem laut mulai diperkenalkan kepada siswa-siswi SD dalam pelajaran muatan lokal[10]. Hal tersebut guna membentuk kesadaran masyarakat sejak dini mengenai pentingnya melestarikan sumber daya alam yang telah ada. Fasilitas pendidikan yang ada di kepulauan Padaido ini hanya dari tingkat SD sampai tingkat SMP saja, dengan rincian 1 buah SD di pulau Auki, 2 buah SD di pulau Nuki, dan 9 buah SD Swasta di pulau Wundi, Nusi, Pai, Mangguandi, Pasi, Bromsi, dan Padaidori. Sedangkan satu-satunya SMP hanya terdapat di pulau Bromsi, dan tidak ada SMA ataupun SMK di kepulauan tersebut. Penduduk pulau Padaido yang melanjutkan dan tamat sekolah hingga tingkat SMU sebesar 9.71%, yang tamat SMP sebesar 20.13%, yang tidak tamat SD sebesar 30.79%, dan penduduk yang tidak bersekolah sebesar 39.20%[11]. Hal tersebut menunjukan bahwa tingkat pendidikan di kepulauan Padaido masih tergolong rendah. Di setiap pulau yang berpenduduk hanya terdapat satu SD saja, dan bahkan untuk melanjutkan ke tingkat SMP, masyarakat harus beranjak ke pulau Bromsi. Hal tersebut tentu saja menjadi hambatan tersendiri, terlebih lagi banyak masyarakat yang masih sulit dalam hal ekonomi, sehingga banyak anak-anak yang harus berhenti sekolah dan terpaksa berpuas diri hanya dengan berbekal pendidikan SD atau bahkan tidak bersekolah sama sekali. Sebagai mahasiswa, kami harus mengulurkan tangan untuk berbagi ilmu dengan mereka, sehingga generasi-generasi muda di kepulauan tersebut tetap dapat bersemangat dan menjadi pembelajaran tersendiri bagi kami mahasiswa untuk dapat terus bersyukur.

Begitu pula dengan fasilitas kesehatan yang ada di kepulauan Padaido. Terdapat 2 buah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di pulau Wundi dan Pasi, Puskesmas pembantu di pulau Mangguandi dan Padaidori, serta keberadaan posyandu di setiap perkampungan[12]. Jelas terlihat bahwa fasilitas kesehatan masih kurang memadai di kepulauan Padaido ini, terlebih lagi jika ada yang sakit parah dan membutuhkan perawatan medis yang canggih sedangkan transportasi menuju kota cukup sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Hingga saat ini, masyarakat Padaido masih menggunakan pengetahuan tradisional yang mereka miliki untuk dapat mengolah berbagai tanaman obat dan pangan yang ada di sekitar lingkungan mereka untuk dijadikan obat bagi masyarakat setempat yang sedang sakit.

Tri Dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, serta pengabdian masyarakat dapat kami terapkan bersama masyarakat di kepulauan Padaido ini. Sebagai mahasiswa yang juga ingin menyebarkan pendidikan yang baik kepada sesama masyarakat, kami harus menyadarkan mereka untuk selalu menjaga ekosistem seperti bahwa terumbu karang memerlukan waktu ratusan tahun untuk dapat tumbuh kembali, dan sebaiknya penggunaan bom bagi nelayan untuk menangkap ikan harus dikurangi atau bahkan ditiadakan agar terumbu karang dan populasi hewan-hewan laut lainnya tetap terjaga. Kesejahteraan wilayah kepulauan Padaido ini juga bergantung kepada masyarakat dan pemerintah setempat, dan tentu saja dengan berbagai masukan dan bantuan dari berbagai pihak yang turut ingin menjaga dan melestarikan kekayaan alam di kepulauan Padaido ini. Menurut saya, peran pemerintah dalam memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat untuk dapat mengelola sumber daya alam dengan baik sudah sangat baik. Akan tetapi, pembinaan yang intensif harus terus dilakukan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat untuk dapat mensejahterakan wilayah Padaido ini. Kegiatan-kegiatan seperti pelatihan terhadap masyarakat tersebut juga harus terus dikembangkan agar tercipta masyarakat dan wilayah yang sejahtera.

[1] http://regional.coremap.or.id/downloads/Monitoring_karang_2004.pdf hal 1, diakses pada 11 Maret 2013 pukul 11.25 WIB

[5] http://www.jurnas.com/halaman/14/2013-02-20/234921 diakses pada 13 Maret 2013 pukul 15.44 WIB

[7] Hasil sensus pertanian Maret 2003, BPS Biak – Numfor

[9] http://caps.ugm.ac.id/kegiatan/pengabdian/ diakses pada 11 Maret 2013 pukul 18.10 WIB

[11] Kabupaten Biak – Numfor 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s